19 Tanda Gagal Ramadhan

August 25th, 2008 by fitrinurdin

Mumpung mau puasa……..
jadi saling mengigatkan aja…
Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka
lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di
bawah ini kiat-Kiat menghindarinya gagalnya Ramadhan:

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat
tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya’ban,
sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu
anha berkata, "Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain
di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak
berpuasa selain di bulan Sya’ban."

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-
nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka
akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan
beramal shalih." (Maryam: 59)

Menurut Sa¹id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat
(meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat
pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu
ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya,
shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh
hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat
disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali
shalat fardhu di bulan lain.

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan
diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan
ciri orang yang shalih. "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam
mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami
dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’
kepada Kami." (Al-Anbiya:90) "Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah
sunnah, sampai Aku mencintainya." (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah
tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu
mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda,
karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta
gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan
hidup sesungguhnya.

Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat
utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur’an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya
diturunkan Al-Qur¹an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan
waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an. "Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur¹an." (HR
Baihaqi)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak
mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik
ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda
keberhasilan latihan di bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: "Orang kuat
bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang
kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah."

Dalam hadits lain beliau bersabda: "Puasa itu perisai diri, apabila
salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan
jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau
mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa."
(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur,
maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan
santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan
dan minumnya." (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan
melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn
Khattab Ra berkata: "Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari
makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan
yang salah dan tutur kata yang sia-sia." (Al Muhalla VI: 178) Ciri
orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya.
Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: "Bicara dulu baru
berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru
diucapkan."

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan
ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa
memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-
Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya."
Puasa mendidik pribadi-
pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan
kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu.
Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan
kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur¹an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang
menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main. Allah bertanya: "Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: "Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari.
maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.

Allah berfirman:"Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja,
kalau kamu sesungguhnya mengetahui. "Maka apakah kamu mengira
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja
Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan
yang mempunyai Arsy yang mulia." (Al-Mu¹minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia
waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-
hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam
bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam
menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw: "Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah
telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua
pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala
syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu
bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh
tidak diberikan kebajikan atasnya." (HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi dari
Abu Hurairah)

Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya
tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat
taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat
ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan amar ma’ruf
nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang
merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak
ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan
selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada
Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir
(rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain,
baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang
gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun
dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama’ah.

Frekuensi shalat berjama’ah di masjid meningkat tajam selama
Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan
empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim.
Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah,
yang saling menguatkan. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-
Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti
bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4)

Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan
Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama
makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra
syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah
fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih
mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara
kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang
spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di
bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang
semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya
semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran.
Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang
bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan
kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena
di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang
ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-
orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-
anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita
terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak
bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera
instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya
mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan
sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-
robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari
berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan
muhasabah (introspeksi) diri. "Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr: 18)

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik
menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir
merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata
Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang
sejati.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada
luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan,
akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia
ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti "hari kembali ke fitrah."
Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari
dibebaskannya mereka dari "penjara" Ramadhan. Akibatnya, hanya
beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan
tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi
diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya
menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran
khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus
berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya

Pada akhirnya, bulan Ramadhan tinggal menghitung hari, mari persiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan. Semoga kita lulus "Universitas Ramadahan" dengan predikat cumlaud. Amiinnn… Dina Mohon maaf lahir batin pada teman2 semua……^_^

Sumber: http://www.suzuki-thunder.net/siraman-rohani-dan-penyegaran-spiritual-f62/19-tanda-gagal-ramadhan-t5147.htm

Kuliah Kerja Nyata…

August 6th, 2007 by fitrinurdin

Piyuh…capek banget rasanya hari ini…, setelah seharian muter-muter bersama teman-teman BEM KUI mengelilingi daerah Seloharjo dan Srihardono Bantul untuk berkunjung ke teman-teman yang saat ini sedang KKN. Tampak rasa senang terpancar di wajah teman-teman yang kami kunjungi. Hampir satu bulan tidak bertemu, pastinya rasa kangen menyelimuti perasaan kami. Hei…seneng banget bisa ketemu dengan kalian, gimana betah gak? Hmm…pertanyaan yang tak asing, dengan maksud memberikan perhatian, suasana pecah dengan canda tawa dan rasa senang.

Melihat kesekeliling, hamparan bukit dan sawah yang terbentang luas, membuat tenang hati dan pikiran yang melihatnya. Daerah yang jauh dengan kehidupan masyarakat kota. "Yach… sempat gak betah diawal, tapi lama kelamaan betah juga," kata sahabatku Indah. Memang wajar suasana sepi yang terkadang membosankan pasti sewaktu-waktu bisa menghampiri.

Jadi ingat pengalaman waktu KKN pasca gempa, jika di bandingkan keadaannya, memang lebih mengenaskan saat itu. Tapi yang patut disyukuri KKN tak dipungut biaya, mungkin dimaklumi karena saat itu lebih pas bila para peserta KKN dikatakan sebgai tim sukarelawan "volunteer", bantuan saat itu pun dengan mudahnya banyak yang berdatangan, tiap kelompok tinggal menjalankan program yang disesuaikan dengan kondisi penduduk saat itu.

Yach…semoga saja pengalaman yang telah didapat selama KKN bisa memberikan dampak yang positif bagi diri kita. Apalagi sebentar lagi kita akan keluar dari lingkungan kampus yang menuntut setiap individu mampu bersosialisasi langsung dengan masyarakat.

Utamanya buat para aktifis dakwah kampus…mari persiapkan diri untuk menuju dakwah sya’bi yang lingkupnya lebih luas. Buktikan dengan kerja nyata..tetap semangat…!!! Perjuangan masih panjang!!!

22 Tahun Usiaku…

June 23rd, 2007 by fitrinurdin

22 Juni 2007, Sudah 22 tahun aku terlahir di duinia ini…aku tak tau sampai kapan Allah memberikan jatah hidup ini kepadaku?? Yang jelas disisa hidup ini aku mencoba untuk bermuhasabah, sudah sejauh mana hidup ini aku gunakan dengan sebaik-baiknya.

Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk bernafas, beribadah, dan beraktifitas. Tapi aku tetap harus meningkatkan kualitas diriku, agar terus baik dan lebih baik lagi. Semoga Allah senantiasa memberikan barokahnya dan mengabulkan atas setiap doa yang kupanjatkan untuk perbaikan diri ini.

Ya Allah hanya dengan bimbingan Mu lah aku akan mampu menjadi seorang akhwat sholehah yang mandiri, tangguh, dewasa, dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Hanya pada Mu aku berserah diri dalam setiap usaha yang kulakukan.

Amiin….

Buat Orang tua dan adek-adekku dirumah, makasih atas doa dan dukungan yang tak pernah henti diberikan….

Dan buat teman-teman yang udah ngasi selamat dan doanya lewat sms, message di email/FS, dan comment, aku ucapin makasih banget Jazakumullah Khairan Kastiran….

Luv u All Coz Allah…..

Pengen Pulang

June 7th, 2007 by fitrinurdin

Ujian Semester Akhir dah selesai, sudah masa liburan bagi mahasiswa di kampus ku, kecuali bagi yang mau ngambil SP termasuk aku. Kadang ada rasa iri juga melihat teman-teman yang bisa menyempatkan diri untuk pulang bertemu dengan kedua orang tua, karena memang tempat tinggal mereka dekat dengan Jogja. Gak tau tiba-tiba aku merasa sangat merindukan keluargaku di rumah, aku ingin berkumpul dengan orang tua dan adik-adikku. Segera…secepatnya aku ingin bertemu. Keinginanku untuk pulang sepertinya tak terbendung, "aku kangen….!!!" Tapi aku harus sabar…menunggu sampai Idul Fitri Insya Allah.

Harapanku…di liburan SMT ini aku bisa melakukan dan  menyelesaikan banyak hal. SP, kursus English, ngajar privat, dan yang penting targetku awal semester VII aku bisa ngajuin judul dan proposal skripsi. Aku harus semangat…yach aku harus semangat!!Ayo donk Dina….cepetan skripsi, biar kuliahnya cepat selesai cepat kelar cepat pulang….ketemu keluarga, bapak, ibu, sanak saudara….!!!

Dina Nak Balek kampong…..

MIss u All….My Family…

Kusadari

May 25th, 2007 by fitrinurdin

Masa-masa ujian seperti ini…koq malah tambah sibuk ya? Syuro’ yang hampir tiap hari, pagi siang malam full activities. Terkadang timbul permasalahan-permasalahan yang menumpuk dipikiran. Akhirnya…capek dan gak semangat belajar. Ibadah pun kadang jadinya sering ditunda bahkan yang sunnah akhirnya tertinggal.

MasyaAllah….apa yang sudah kulakukan?? Setiap hari aku sibuk dengan aktifitas duniawi, tapi apakah aktifitas ukhrawi ku sudah ku persiapkan sebaik mungkin?? Aku sadar ketika kekuatan maknawiyah dalam diri ini melemah yang terjadi adalah rasa lelah dalam aktifitas, mudah mengeluh.

Tak baik seharusnya aku menyalahkan keadaan padahal mungkin diri ini yang terlalu lalai dan tidak bisa mengimbangi dengan kebutuhan yang sangat urgen. Yach..kekuatan maknawiyah yang perlu aku tingkatkan dalam diri ini, Masya Allah sudah seberapa seringkah Tahajudku, sudah seberapa seringkah Dhuhaku, sudah rutinkah Saum sunnah ku, sudah rutinkah Qiroatul Quranku?? Betapa jauhnya aku Ya Allah…

Ya Allah…ampuni aku…berikanlah aku kesempatan yang panjang untuk memperbaiki dan menyempurnakan muttabaah harianku.

Ya Allah berikanlah kesempatan pada diri ini untuk merasakan betapa manisnya, betapa leganya, ketika mengadukan segala keluh kesah disepertiga malam Mu.

Ya Allah berilkanlah kesempatan pada diri ini untuk merasakan betapa indahnya nikmat yang kau berikan di waktu-waktu dhuha Mu.

Ya Allah berikanlah kesempatan pada diri ini untuk merasakan betapa besar manfaat yang bisa dirasakan dengan menjalankan shaum sunnah Mu.

Ya Allah berikanlah kesempatan pada diri ini untuk merasakan betapa sejuknya hati ini, ketika membaca Ayat-Ayat Suci MU

Ya Allah…berikanlah kemudahan pada diri ini dalam menjalankan segala aktifitas. Hanya pada Mu hamba mengadu…hanya pada Mu hamba kembali…Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.

Ya Allah selangkah ku rapat pada Mu…seribu langkah Kau rapat padaku.

Amin…Ya Robbal’alamin….

May 19th, 2007 by fitrinurdin

Setelah menunggu hampir 4 bulan pasca PEMILWA, selama itu pula pemerintahan mahasiswa berada dalam keadaan fakum of power. Akhirnya 18 Mei 2007 pukul 19.30 acara KMF (Kongres Mahasiswa Fakultas), malam itu aku dilantik secara resmi sebagai ketua BEM PS KUI.

Malam itu sumpah jabatan diambil, amanah sudah benar-benar dilimpahkan kepada seluruh ketua BEM F,BEM J dan BEM PS. MasyaAllah amanah kedepan bukanlah amanah yang main-main, tapi mengapa masih ada yang tidak serius ketika diambil sumpahnya. Bersumpah atas nama Allah bukanlah perkara yang ringan, tapi mengapa masih ada yang menggampangkan??

Bukankah keseriusan kita dalam menjalankan amanah merupakan komitmen yang harus kita pegang sebagai pemimpin, dan sesungguhnya kepemimpinan ini nantinya akan dipertanggung jawabkan pada sang Khaliq yang Maha Memiliki Kekuasaan.

PENGAWASAN POTENSI ZAKAT DI INDONESIA

May 15th, 2007 by fitrinurdin

Nilai instrumental sistem ekonomi Islam salah satunya adalah zakat. Zakat adalah salah satu rukun Islam yang merupakan kewajiban agama yang dibebankan atas harta kekayaan seseorang menurut aturan tertentu. Zakat bukanlah pajak yang merupakan sumber pendapatan Negara. Karena itu, keduanya harus dibedakan. Zakat yang disebut dalam Al-Quran setelah shalat, adalah sarana komunikasi utama antara manusia dengan manusia lain dalam masyarakat. Peranan zakat, baik zakat mal (harta) maupun zakat fitrah, dalam pemerataan pendapatan akan lebih kentara kalau dihubungkan dan dilaksanakan bersama dengan nilai instrumental lainnya yakni pelarangan riba. Dalam pandangan Islam zakat merupakan sarana untuk mencari keridhaan Allah. Seperti yang diungkapkan Adnan dan Gaffikin (1997) sebagai berikut: “This accountability has to be manifested in the form of how one can account for his or her zakat obligations properly since muslem cannot differentiate a worship activity”. Pengeluaran zakat menjamin bukan sebagai pemborosan, karena penerima zakat telah diatur dengan jelas dalam Al-Quran. Zakat akan memberikan motivasi bagi yang membayarnya karena pembayar zakat mengetahui bahwa penggunaan (alokasi) zakat diperuntukkan bagi orang miskin dan tidak mampu. Zakat pada prinsipnya merupakan kesejahteraan agama dan pembayarannya merupakan kewajiban agama. Pelaksanaan pemungutan zakat seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan didistribusikan untuk kesejahteraan sosial dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Menurut ajaran Islam, zakat sebaiknya dipungut oleh negara atau pemerintah yang bertindak sebagai wakil fakir miskin untuk memperoleh haknya yang ada pada harta-harta orang kaya. Ajaran ini berasal dari perintah Allah kepada Nabi Muhammad, agar Nabi memungut zakat dari harta orang-orang kaya (Q.S: 9: 103), juga berdasarkan perintah Nabi Muhammad kepada Mu’az yang menjadi gubernur di Yaman, agar ia memugut zakat dari orang-orang kaya dan kemudian membagi-bagikannya kepada fakir miskin (HR. Bukhari). Cara pemindahan atau pemerataan kekayaan seperti ini dimaksudkan agar orang kaya tidak merasa zakat yang dikeluarkannya sebgaai kebaikan hati, bukan kewajiban, dan fakir miskin tidak merasa berutang budi pada orang kaya kaena menerima pembagian zakat. Zakat, pada hakikatnya, adalah distribusi kekayaan dikalangan umat Islam, untuk mempersempit jurang pemisahantara orang kaya dengan miskin dan menghindari penumpukan kekayaan ditangan seseorang. Dan apabila zakat dipungut oleh Negara, keuntungannya antara lain dalah sebagai berikut: (a) para wajib zakat lebih disiplin dalam menunaikan kewajibannya dan fakir miskin lebih terjamin haknya; (b) perasaan fakir miskin lebih dapat dijaga, tidak merasa seperti orang yang memita-minta; (c) pembagian zakat akan menjadi lebih tertib; (d) zakat yang diperuntukkan bagi kepentingan umum seperti sabilillah misalnya, dapat disalurkan dengan baik karena pemerintah lebih mengetahui sasaran pemanfaatannya. Apabila Negara tidak mempunyai lembaga pengumpulan zakat sendiri, pemungutan dan pembgian zakat dapat dilakukan misalnya oleh badan-badan hokum swasta dibawah oengawasan pemerintah (Yusuf Qardhawi, A.A. Basyir 1978: 39-40). Perlunya pengawasan pemerintah terhadap harta zakat, mulai tahapan penarikan atau dalam pengoperasian. Pengawasan pemerintah ini dimaksudkan sebagai realisasi cita-cita agung. Sistem pengawasan ini, secara garis besarnya dapat dikategorikan pada dua hal berikut ini (M.Faruq an-Nabahan, Sistem Ekonomi Islam: Pengawasan Terhadap Harta Zakat, 2002:113): 1) Mengawasi sistem penarikan zakat. Pemerintah bisa menugaskan aparat perpajakan dalam mengecek harta apa saja yang harus dizakati. Pemerintah juga harus memiliki Dewan Kehormatan Zakat yang menjamin, bahwa zakat dioperasikan sesuai program agung syariah. 2) Pengoperasian harta hasil zakat. Kami sangat yakin, bahwa harta zakat sangat berperan penting dalam mewujudkan keadilan sosial yang lebih merata. Zakat adalah solusi yang sangat realistis dalam penyelamatan problem social di era modern ini. Dalam mengalokasikan harta zakat , kita biss memulai dengan mengkategorikan para mustahiq (yang berhak atas zakat) ke berbagai kelas. Rujukan kelas disni bergantung kelas kebutuhan mereka. Untuk yang telah lemah bekerja, padanya diberikan kebutuhan rutin, bias bulanan atau dengan sistem lain. Dan untuk yang sebenarnya berpenghasilan, hanya saja tidak mencukupi kebutuhannya, pada yang demikian diberinya tambahan yang dapat mencukupi. Dalam artikel yang ditulis oleh Bahrul F. Masduqi pada Oktober 2004 dengan judul Zakat: Sumber Daya yang Terabaikan, disebutkan bahwa memang zakat sesungguhnya merupakan potensi ekonomi yang amat besar bagi bangsa Indonesia. Jika mnengok jumlah muslim yang mayoritas di Negara kita, maka seharusnya zakat bias menjadi solusi bagi pemecahan masalah kemiskinan di Indonsia. Jumlah muslim yang 90% dari total populasi 200 juta, maka anggap saja muslim yang wajib zakat sekitar 60% sehingga ada sekitar 120 juta penduduk. Jika diasumsikan harga 2,5 Kg beras Rp. 5000 maka pada malam hari raya Idul Fitri bias terkumpul uang sebesar 600 milyar rupiah, itu belum termasuk zakat harta, infaq dan sadaqah para orang kaya dan pejabat yang bias mencapai 150 juta rupiah per orang. Anggap saja jumlah konglomerat muslim di Indonesia ada sekitar 1 juta orang, jika setiap konglomerat membayar zakat 100 juta rupiah maka totalnya bias mencapai 100 trilyun rupiah. Sehingga bila digabung maka jumlahnya bias setra dengan APBN kita. Jika pengelolaan zakat tersebut dapat dilakukan dengan baik maka persoalan sosial seperti TKI terlantar, pengungsi, anak jalanan, anak putus sekolah, dan pengangguran kan dapat teratasi. Karena pada dasrnya harta hasil zakat dapat dikelola menjadi l;ebih modern dan berdaya guna semisal pemberian beasiswa, pemberian kursus keterampilan, peminjaman modal usaha dan lain-lain. Namun sekali lagi yang perlu disayangkan adalah bahwa zakat masih banyak dimaknai sebagai rutinitas dan ritualitas yang maknanya tak lepas dari 2,5 Kg beras yang dibayarkan menjelang malam Idul Fitri. Bahrul mensarankan kepada pelaku survey kemiskinan agar melakukan research kemiskinan di Indonesia menjelang malam Idul Fitri, bisa dipastikan angka kemiskinan akan turun sangat drastis di malam itu dan jangan melakukan research di hari lain karena seusai shalat Idul Fitri angka kemiskinan akan kembali melonjak sangat drastis pula. Ir. Teger Basuki, M.P. menulis di media “Sinar Tani” pada Nopember 2005 dengan judul Potensi Zakat Hasil Bumi, bahwa keberhasilan pengumpulan zakat di Indonesia tidak terlepas dari peran lembaga zakat yang ada. Dedikasi, kejujuran, kreativitas dan transparansi kerja personil yang duduk di kelembagaan zakat sangat diperlukan agar masyarakat atau petani yang berkewajiban membayar zakat tidak ragu-ragu untuk menyetor zakat hasil bumi dan ternak kepada lembaga tersebut, maka administrasi yang rapid an pelaporan yang berupa terbitan berkala tentang perkembangan zakat perlu dibagikan kepada masyarakat pembayar zakat agar terbangun image yang kondusif dikalangan pemberi zakat. Sekedar ilustrasi dari lahan sawah irigasi dan hanya komoditas padi yang diperhitungkan, serta yang dikenakan wajib pajak sekitar 15% dari areal yang ada, zakat yang diperoleh sebesar Rp. 2.080 triliun. Dana sebesar itu dapat membantu fakir miskin sebnyak 1.735.847 orang @ Rp. 100.000 selama satu tahun. Pemberian zakat secara inovatif (sekin persen dari dana zakat yang ada) perlu dilaksanakan untuk bantuan modal kerja, pelatihan dan peralatan kerja bagi penerima zakat yang memiliki keterampilan. Sekjen Asosiasi Lembaga Zakat Indonesia, KH. Didin Hafiduddin kepada wartawan di Jakarta (April 2006), menyatakan ada banyak faktor yang menghambat pengumpulan zakat. Kecilnya zakat yang diraih lembaga amil zakat antara lain disebabkan regulasi dan kepercayaan masyarakat yang masih rendah terhadap badan amil zakat, masyarakat belum bisa sepenuhnya menyerahkan zakat kepada badan amil zakat. Mereka cenderung memberikannya secara langsung kepada masyarakat. Perolehan zakat di Indonesia baru sepuluh persen atau hanya Rp. 400 miliar dari Rp. 17,5 triliun potensi yang ada. Badan amil zakat perlu membuat terobosan baru. Diantaranya adalah sosialisasi badan amil zakat dan peran zakat bagi perekonomian umat. Selain itu, faktor kelembagaan badan mail zakat yang belum professional juga menjadi salah satu kendala. Meski demikian, perkembangan zakat di Indonesia cukup menggembirakan. Hal itu dilihat dari makin bertambahnya orang-orang berzakat menggunakan lembaga amil zakat. Kehadiran lembaga amil zakat amat potensial untuk memberdayakan pengeluaran zakat. Tak sedikit orang yang semula penerima zakat lantas naik menjadi pemberi zakat. Jadi meski belum optimal, lembaga amil zakat berperan mengentaskan kemiskinan. Karena itu peran lembaga amil zakat perlu ditingkatkan. Badan amil zakat bisa disebut sebagai lembaga keuangan. Namun lembaga tersebut tidak mencari keuntungan. Ia merupakan lembaga sosial dan kemanusiaan yang semata-mata mencari pahala. Yang paling penting saat ini adalah memelihara dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Kepercayaan masyarakat pada lembaga amil zakat harus tetap dipelihara. Zakat yang dikelola secara baik dan professional, akan menghapus kekhurafatan berbagai pemikiran yang gila, yang jika dianut tidak akan membawa apa pun bagi umat, kecuali kezaliman, kemiskinan dan keputusasaan. Jika saja pemerintah Islam dengan baik dan konsisten melakukan tugas yang berkait dengan zakat, dan kemudian diberikan pada fakir miskin, dan ditambah pemerintah mau membangun berbagai fasilitas bagi umat, baik yang menyangkut kebutuhan sepritual maupun material, maka tugas yang berupa program sosial telah terbangun. Dengan terbangunnya sistem sosial yang baik, maka umat menjadi jauh dari sistem-sistem kenegaraan yang tidak Islami, yang jika diterapkan hanya mendatangkan kehancuran.

Dina in Action

May 15th, 2007 by fitrinurdin

Segala Puji Bagi Allah, dialah Rabb yang Ditangan-Nya Kekuasaan. Dia memberikan kekuasaan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dia pula yang mencabut kekuasaan dari tangan orang yang dikehendakinya dan Allah lah Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu.

Sholawat serta salam teruntuk Nabi muhammad SAW, yang sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang indah bagi orang yang mengharap rahmat Allah, dan keselamatan hari terakhir dan banyak mengingat-Nya.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perubahan dari IAIN menjadi UIN ini menuntut adanya upaya pengembangan terus menerus yang diarahkan pada: pengembangan akademik, pengembangan kelembagaan dan sistem manajemen yang didukung dengan pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan sarana dan prasarana fisik infrastruktur. Perubahan ini pada akhirnya menuntut pula perubahan dalam pola pikir, pola sikap, dan pola prilaku segenap individu yang terlibat dalam pengelolaan institusi pendidikan tinggi ini.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagi perjalanan sebuah institusi pendidikan. Masa itu merupakan masa transisi menuju kedewasaan yang sangat menentukan bagi maju mundurnya institusi tersebut kedepan. Keberhasilan pengeloalaannya akan menjadi landasan yang kokoh bagi manuver-manuver berikutnya.

Renald Kasali alam bukunya Change mengatakan bahwa menjadi seorang pengambil keputusan yang sukses pada masa transisi merupakan prestasi yang sangat luar biasa, jika dibandingkan dengan kesuksesan seorang pengambil keputusan pada saat keadaan stabil.

Di tengah-tengah perubahan yang terjadi tentunya peran mahasiswa sangatlah di harapkan dalam menuangkan segala kemampuan baik tenaga mupun pikirannya. Mahasiswa yang dipahami sebagai personal yang memiliki integritas keilmuan, disatu sisi merupakan figur manusia yang mempunyai mentalitas ilmiah dan mempunyai sikap budaya rasional, sedang disisi yang lain juga merupakan sosok yang mempunyai sensitifitas tinggi (good sense) atas setiap gejala penindasan dan ketidakadilan.

Saat ini kampus kita Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sedang berupaya melakukan perubahan yang cukup signifikan menuju ke arah perbaikan. Untuk itu peran kita sebagai mahasiswa haruslah mampu menggunakan nalar kritis kita untuk mengawasi, mengontrol, bahkan melawan apabila terjadi penyimpanagan terhadap mekanisme yang dijalankan.

Namun demikian kita sebagai mahasiswa Muslim haruslah mengedepankan good character, sikap atau akhlak yang baik, memiliki kejujuran, integritas dan ketulusan hati, bukan dengan mengedepankan sikap yang anarkis dan arogan.

Peran mahasiswa yang duduk di lembaga pemerintahan mahasiswa juga cukup diperhitungkan. Karena mau tidak mau, keberhasilan suatu universitas juga ditentukan oleh keberhasilan student government yang ada di dalamnya.

BEM sebagai salah satu sarana reprecentative bagi mahasiswa untuk menyalurkan aspirasinya, memilki peranan yang sangat strategis dalam membawa perubahan yang lebih baik bagi pengembangan universitas, fakultas, jurusan ataupun program studi.

Dengan berbekal good wil yang cukup baik tersebut, BEM dapat berkomitmen untuk tetap menjadi agen prubahan (agent of change), pemerhati dan pengusung kepentingan mahasiswa (student control), seta merupakan kekuatan penyeimbang (opposition power), dan menjadi potensi strategis dalam proses pembangunan (iron stock).

Petanyaannya sudah sejauh mana peran student government yang ada dikampus UIN ini menjalankan fungsi dan kinerjanya sesuai dengan amanah yang dipercayakan oleh mahasiswa? Serta sejauh mana program kerja yang dibuat benar-benar dijalankan dan bermanfaat bagi mahasiswa juga eksistensi kampus UIN Sunan Kalijaga yang tercinta?

Harapannya student government yang ada di kampus ini jangan hanya menebar pesona, tapi marilah kita sama-sama menebar kinerja yang baik sesuai harapan seluruh mahasiswa.

Dalam kerangka inilah Partai PAS yang mengajukan calonnya untuk duduk di lembaga eksekutif maupun legeslatif akan berupaya bekerja secara profesional sesuai dengan kapasistasnya, agar mampu melayani dan mengakomodir aspirasi mahasiswa, sehingga tidak ada lagi hambatan internal yang menghambat mahasiswa untuk memasuki wilayah kemasyarakatan.

Partai  PAS juga berupaya mewujudkan masyarakat kampus yang berakhlak berfikir dan beretos kerja konkret yang di ridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Pilih Partai PAS!!!

wallahua’lam bisshowab…. 

Makna Cinta

April 30th, 2007 by fitrinurdin

Apakah makna Cinta yang sejati itu,

Adakah yang bisa memberitahuku tentang makna Cinta yang sesungguhnya,

Cinta pada Allah Cinta yang sejati,

Cinta pada Allah Cinta yang hakiki,

To be continue….

Kapan lagi mau nulis….

April 30th, 2007 by fitrinurdin

Alhamdulillah…,

Sudah lama sebenarnya aku ingin mengaktifkan Blog ini, aku ingin aktif menulis. Moga disini bisa kutumpahkan semua inspirasi yang ada dipikiranku, unek2 yang ada dihati ku, ilmu yang bermanfaat mesekipun cuma satu ayat, dan pengalaman2 yang insyAllah bisa dijadikan pelajaran dalam menyikapi kehidupan!!!

Aku berlindung kepada Allah, untuk membimbing pikiran, hati, lisan dan tangan ini, agar selalu bersih dan terjaga dalam kebaikan…amin…

Bismillah….